Main menu:

Site search

Categories

May 2012
M T W T F S S
« Dec    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Tags

Blog okut

cobit

COBIT 4.0

pada Blog ini saya pernah posting artikel tentang Audit Sistem Informasi menggunakan Framework COBIT, namun pada artikel tersebut tidak dijelaskan versi COBIT yang digunakan, artikel tersebut saya copas (copy-paste) abis-abisan dari blog salah seorang akuntan indonesia (terima kasih pak). nah pada artikel kali ini saya akan posting kembali artikel tentang COBIT versi terbaru (versi4.0). artikel ini saya gunakan untuk referensi kuliah saya pada semester ini.. semoga bisa bermanfaat.

Rolling Meadows, Ill, USA, 14 Desember – Lembaga Pengaturan IT (IT Governance Institute, ITGI) pada 16 Desember 2005, akan memperbaharui tujuan pengontrolan informasi dan teknologi yang terkait (COBIT), suatu kerangka kerja pengaturan IT yang dapat diterima secara internasional.

COBIT dapat menyediakan seperangkat praktek yang dapat diterima pada umumnya karena dapat membantu para direktur, eksekutif dan manager meningkatkan nilai IT dan mengecilkan resiko.

“Para eksekutif menyadari bahwa dampak informasi dapat menjadikan jalan perusahaan mereka ke arah keberhasilan dan  tanggungjawab pengaturan yang meningkat yang mereka miliki untuk menjamin adanya keberhasilan,” ujar Erik Guldentops, CISA, CISM,  seorang konsultan manajemen di Brussels, Belgia dan juga anggota tim pengembangan COBIT sejak berdirinya.

Edisi COBIT terbaru memberikan praktek dan hubungan ke atas terbaik untuk menunjang persyaratan pengelolaan IT bagi para eksekutif dan direktur dan yang berkaitan dengan hubungan ke bawah digunakan untuk mengatasi persyaratan yang lebih rinci bagi mereka yang bertanggungjawab terhadap solusi dan jasa pengiriman. Ini semua juga memberikan dukungan agar dapat mengoptimalkan investasi IT, menjamin nilai pengiriman dan meringankan resiko IT dengan cara yang lebih transparan.

Walaupun COBIT juga digunakan secara luas sebagai alat untuk keperluan Sarbanes-Oxley (SOX), edisi awalnya mencakup banyak masalahpengendalian aturan termasuk juga SOX. Ia merupakan produk yang diperoleh melalui penelitian dan kerjasama selama 10 tahun antara ahli IT global dan bisnis dan juga sudah tersedia sebagai standar terbuka www.isaca.org/cobit.

Edisi terbaru — COBIT 4.0 memberikan fokus bisnis yang cukup kuat untuk mengatasi tanggungjawab para direktur dan pegawai. COBIT 4.0 menandai pembaharuan pertama dari isi COBIT sejak dirilisnya edisi COBIT ketiga di tahun 2000. Edisi pertama diterbitkan di tahun 1994. Studi kasus pelaksanaan COBIT di organisasi internasional utama misalnya Unisys, Sun Microsystems dan DPR Amerika juga terdapat di http://www.isaca.org/cobitcasestudies.

“COBIT 4.0 tidak kelihatan seperti sebuah buku akademik. Ada materi yang cukup berguna pada setiap halaman,” ujar Christopher Fox, ACA. “COBIT 4.0 mampu menjadi sebuah dokumen yang sangat bermanfaat.”

COBIT 4.0 ini juga mencakup bimbingan bagi para direktur dan semua level manajemen dan terdiri atas empat seksi:

  • Gambaran luas mengenai eksekutif
  • Kerangka kerja
  • Isi utama (tujuan pengendalian, petunjuk manajemen dan model kedewasaan)
  • Appendiks (pemetaan, ajuan silang dan daftar kata-kata)

Isi utama dibagi lagi menurut proses 34 IT dan memberikan gambaran yang sempurna mengenai cara mengendalikan, mengelola dan mengukur masing-masing proses.

Selain itu, COBIT 4.0:

  • Menganalisa bagaimana tujuan pengendalian dapat dipetakan ke dalam lima wilayah penentuan IT agar dapat mengidentifikasi gap potensial.
  • Menyesuaikan dan memetakan COBIT ke standar yang lain (ITIL, CMM, COSO, PMBOK, ISF and ISO 17799)
  • Mengklarifikasikan indikator tujuan utama (KGI) dan indikator hubungan kinerja utama (KPI), dengan mengenal bagaimana KPI dapat bergerak mencapai KGI.
  • Menghubungkan tujuan bisnis, IT and proses IT (penelitian mendalam di delapan industri dengan pandangan yang lebih jelas tentang bagaimana proses COBIT mendukung tercapainya tujuan IT spesifik dan dengan perluasan, tujuan bisnis).

COBIT 4.0 bisa menggantikan komponen edisi ketiga yang menyangkut Ringkasan Eksekutif, Kerangka kerja, Tujuan Pengontrolan dan Petunjuk Manajemen. Pekerjaan sedang dilakukan agar bisa mengatasi petunjuk Audit.

Perkenalan COBIT 4.0 tetap akan melakukan pekerjaan yang dilakukan oleh COBIT edisi ketiga, tetapi hanya memberikan kesempatan untuk membangun pekerjaan itu dan selanjutkan meningkatkan penentuan IT dan pengendaliannya bila cocok.

Banyak COBIT tersedia untuk dapat melakukan download di http://www.isaca.org/cobit. Salinan cetak dapat dibeli di toko buku ISACA (http://www.isaca.org/bookstore) sebesar US $190. Situs pelengkap yang menawarkan pandangan mendalam mengenai COBIT 4.0 sudah tersedia di http://www.livemeeting.com/cc/isaca/view.

Tentang COBIT
COBIT® (Tujuan pengendalian bagi informasi dan teknologi terkait®)) dikeluarkan oleh ITGI dapat diterima secara internasional sebagai praktek pengendalian atas informasi, IT dan resiko terkait. COBIT digunakan untuk menjalankan penentuan atas IT dan meningkatkan pengontrolan IT. COBIT juga berisi tujuan pengendalian, petunjuk audit, kinerja dan hasil metrik, faktor kesuksesan dan model kedewasaan.

Tentang ITGI
Lembaga Pengaturan IT® (IT Governance Institute, ITGI) (
http://www.itgi.org) didirikan pada tahun 1998 untuk memajukan pemikiran dan standar internasional dalam mengarahkan dan mengendalikan teknologi informasi sebuah perusahaan. Pengaturan IT yang efektif dapat membantu meyakinkan bahwa IT sangat mendukung tujuan bisnis dan mengelola resiko yang berkaitan dengan IT dan kesempatan. Lembaga Pengaturan IT mengembangkan tujuan pengendalian bagi informasi dan teknologi terkait (COBIT) serta menawarkan penelitian dan studi kasus untuk membantu pengelola perusahaan dan para direktur dalam tanggungjawab pengaturan IT.

Mapping Metode

    BLUE OCEAN STRATEGIC

    Blue Ocean Strategy (BOS), yang ditulis oleh W. Chan Kim dan Renee Mauborgne adalah bagian dari proses strategi bisnis. Dari segi definisi BOS adalah strategi bisnis yang menerapkan penguasaan ruang pasar yang tidak diperebutkan (uncontested market space) sehingga membuat persaingan menjadi tidak relevan. Pasar yang tidak diperebutkan tersebut dianalogikan sebagai Blue Ocean (Samudera Biru) dimana suatu organisasi bermain sendirian tanpa ada pesaing. Sebaliknya kondisi dimana ruang pasar saling diperebutkan oleh berbagai pihak dengan cara apapun seakan-akan sampai berdarah-darah, maka kondisi ini dianalogikan sebagai Red Ocean atau Samudera Merah.

    Analisa Blue Ocean Strategy Menentukan business strategy dalam lingkungan yang sarat perubahan harus menciptakan inovasi yang harus mempertimbangkan tiga hal: who, what dan how . Who adalah siapa, yaitu sasaran segmentasi yang sesungguhnya ingin di capai, What adalah value apa yang akan diberikan dengan inovasi tersebut, dan How adalah bagaimana caranya menciptakan inovasi tersebut. Blue Ocean Strategy (BOS) adalah sebuah proses management strategic yang mampu mengubah paradigma pelaku bisnis dalam menghadapi persaingan. BOS adalah mengenai bagaimana menguasai ruang pasar yang tidak diperebutkan sehingga dengan demikian persaingan menjadi tidak relevan. Pasar yang bebas dari kompetisi ini disebut sebagai Blue Ocean atau samudera biru sementara yang sarat dengan persaingan adalah Red Ocean.

    Kajian ini menitikberatkan pada Blue Ocean Strategy karena strategi ini menyeimbangkan value antara customer dan keuntungan perusahaan yang diakomodasi dalam strategi bisnis. Yang ingin ditekankan adalah apa yang dibutuhkan oleh industri penyiaran adalah inovasi yang menciptakan value, bukan inovasi saja dan keluar dari persaingan tetapi lebih dari itu, bagaimana menciptakan value bagi konsumen industri ini yang tidak didapatkan dari pesaing. Selain itu juga untuk mempertimbangkan keberlangsungan bisnis penyiaran dalam jangka panjang, inovasi dan value yang diciptakan harus mempertimbangkan faktor economic dan provitable. Artinya pelaku bisnis harus sangat mempertimbangkan inovasi yang dilakukan yaitu berapa biaya yang di keluarkan harus feasible secara ekonomis dan mampu menghasilkan keuntungan jangka panjang. Berikut ini gambar yang menjelaskan hubungan antara inovasi dan tingkat permintaan.

    Gambar dibawah ini mencoba menghubungkan bagaimana inovasi nilai secara radikal akan meningkatkan daya tarik dengan meningkatnya permintaan terhadap produknya, yang menggeser kurva permintaan dari D1 ke D2.

    Harga ditentukan secara strategis dari P1 ke P2 dengan tujuan memperluas pasar. Hasilnya, meningkatnya penjualan spasi iklan dari Q1 ke Q2. Selain itu juga mengurangi biaya rata-rata jangka panjang dari LRAC1 menjadi LRAC2 yang secara jangka panjang menghindari munculnya follower pada inovasi ini. Akibatnya pemasang iklan akan mendapatkan value dari iklan yang dipasangnya dari area axb menjadi eyf. Demikian juga bagi perusahaan memperoleh kenaikan laba dari area abcd menjadi efgh. Sehingga menciptakan kondisi yang win-win solution baik bagi pemasang iklan maupun bagi perusahaan.

    Analisa Blue Ocean Strategy Menentukan business strategy dalam lingkungan yang sarat perubahan harus menciptakan inovasi yang harus mempertimbangkan tiga hal: who, what dan how

    1. Menciptakan ruang pasar baru
    2. Membuat kompetisi menjadi tidak relevan
    3. Menciptakan dan menjangkau demand baru

    Pendekatan yang sistematis yang dirancang oleh Kim dan Mauborgne dalam membuat Blue Ocean Strategy secara garis besar terdiri dari enam prinsip strategi yang terkelompok dalam dua prinsip yaitu Prinsip Perumusan dan Prinsip Pelaksanaan.

    - Prinsip Perumusan

    1. Merekonstruksi batasan-batasan pasar. Caranya dengan melakukan kerangka kerja “six path” yaitu:

    a. Mencermati industri-industri alternatif.

    b. Mencermati kelompok-kelompok strategis dalam industri.

    c. Mencermati rantai pembeli.

    d. Mencermati Penawaran Produk dan Jasa Pelengkap.

    e. Mencermati daya tarik emosional atau fungsional bagi pembeli.

    f. Mencermati waktu.

    g. Fokus pada gambaran besar bukan pada angka.

    2. Menjangkau melampaui permintaan yang ada.

    3. Melakukan rangkaian strategis dengan tepat dengan melakukan urutan sebagai berikut:

    a. Utilitas, sejauh mana produk memiliki utilitas atau kemanfaatan bagi konsumennya.

    b. Harga. Yaitu menerapkan harga strategis yang tepat sehingga menarik massa pembeli sehingga mereka mempunyai kemampuan membeli produk yang ditawarkan.

    c. Biaya. Apakah perusahaan bisa mencapai biaya sasaran sehingga perusahaan bisa mendapatakan keuntungan pada level harga yang strategis.

    d. Pengadopsian. Apakah ada rintangan atau hambatan dalam pengadopsian ide.

    - Prinsip Eksekusi atau Pelaksanaan

    1. Mengatasi hambatan-hambatan utama dalam organisasi.

    2. Mengintegrasikan Eksekusi ke dalam Strategi. Organisasi harus mengintegrasikan eksekusi ke dalam strategi sejak awal.

    EVALUASI WEBSITE E-GOVERNMENT

    Rusidi, Lin Yan Syah, Mohammad Akbar

    PROGRAM PASCA SARJANA

    MAGISTER  TEKNIK  INFORMATIKA PALEMBANG

    Email: rusidi_tipong@yahoo.co.id

    ABSTRAK

    Sebuah situs website perlu diukur dari segi kemudahan dipelajari, kemudahan digunakan, kepuasan dan efisiensi, guna kelangsungan dan pengembangan situs website kedepan. Pengukuran ini bisa menggunakan usability testing atau uji ketergunaan, metode ini digunakan untuk mengukur situs website dari segi pengguna. Dalam penelitian ini mengambil objek yaitu situs website pemerintah daerah kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) dan Ogan Komering Ulu Timur (OKU Timur) dengan menggunakan 6 responden. Hasil dari usability testing ini akan menghasilkan sebuah penilaian terhadap situs dan memberikan masukkan dalam proses pengembangan situs website kedepan. Selain menggunakan usability testing, penelitian ini juga melakukan penilaian situs web menggunakan standar yang sudah dikeluarkan Kementrian Komunikasi Republik Indonesia tahun 2003 dalam Buku Panduan Penyelenggaraan Situs Web Pemerintah Daerah.

    Dalam penelitian yang dilakukan ini diperoleh hasil yaitu prosentase pengguna dalam mendapatkan informasi didalam situs website kabupaten OKU sebesar 81,26%, prosentase pengguna yang tidak mendapatkan informasi didalam situs website kabupaten OKU sebesar 18,74%. Prosentase kesesuaian Situs web pemerintah kabupaten OKU dengan Panduan Penyelenggaraan Situs Web Pemerintah Daerah yang dikeluarkan oleh Kementrian Komunikasi RI tahun 2003 sebesar 27,91%, prosentase bagian yang ada tetapi belum sesuai dengan Panduan Penyelenggaraan Situs Web Pemerintah Daerah yang dikeluarkan oleh Kementrian Komunikasi RI tahun 2003 sebesar 48,84%, dan prosentase bagian yang tidak ada dalam situs website kabupaten OKU tetapi diisyaratkan dalam Panduan Penyelenggaraan Situs Web Pemerintah Daerah yang dikeluarkan oleh Kementrian Komunikasi RI tahun 2003 sebesar 23,26%. Sedangkan Untuk situs website kabupaten OKU Timur saat ini tidak bisa dinilai, hal ini disebabkan karena situs website OKU Timur  tidak aktif (up) dan hanya muncul headernya saja.

    Keyword: Usability, testing, uji, ketergunaan, OKU, OKU Timur.

    1. 1. PENDAHULUAN

    Dalam Inpres tersebut serta didukung dengan Keputusan Menteri Komunikasi dan Informasi tentang pengembangan E-Government merupakan upaya pemerintah dalam mendorong masyarakat Indonesia untuk lebih memanfaatkan Teknologi Informasi. Intruksi Presiden No.3 tahun 2003 tentang “Kebijakan dan Strategi

    Sasional Pengembangan E-Government Indonesia” berisikan antara lain panduan, seperti:

    1. Panduan pengembangan insfrastruktur portal pemerintah
    2. Panduan manajemen sistem dokumen elektronik
    3. Panduan penyusunan rencana induk pengembangan E-Government lembaga
    4. Panduan penyelenggaraan situs web pemerintah daerah
    5. Panduan tentang pendidikan dan pelatihan SDM E-Government.

    Dengan sudah disiapkannya acuan dan dasar pembuatan E-Government oleh pemerintah seperti yang sudah disebutkan diatas, maka sudah sewajarnya seluruh bagian dari pemerintahan baik dari pusat sampai dengan pemerintah daerah melaksanakan hal itu. Tetapi saat ini masih banyak instansi pemerintahan masih banyak yang belum mengimplementasikannya. Masih banyak ditemukan situs website pemerintah daerah yang seadanya atau asal ada saja tanpa pernah memperhatikan acuan seperti yang sudah dituangkan dalam Inpres Nomor 3 tahun 2003 serta Keputusan Menteri Komunikasi dan Informasi, sehingga situs web hanya sebatas proyek saja tanpa ada pengelolaan lebih lanjut, dan itu yang terjadi pada situs web yang dimiliki oleh pemerintah daerah kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) dan Ogan Komering Ulu Timur (OKU Timur).

    Maka diperlukanya sebuah bentuk evaluasi terhadap website yang dimiliki oleh kedua pemerintah kabupaten OKU dan OKU Timur, sehingga akan diketahui kualitas dari kedua situs website ini yang dilihat dari segi pengguna atau masyarakat dan dari standar pemerintah yaitu berdasar Panduan Penyelenggaraan Situs Web Pemerintah Daerah yang dikeluarkan oleh Kementrian Komunikasi Republik Indonesia tahun 2003.

    Dengan menggunakan Usability Testing akan dapat disimpulkan bagaimana nilai dari situs website milik pemerintah daerah kabupaten ini dari segi kemudahan digunakan, kemudahan dipelajari, efisiensi dan kepuasan. Dan dengan penilaian menggunakan standar pemerintah akan bisa dinilai apakah situs website sesuai dengan standar pemerintah.

    1. 2. ANALISIS, EVALUASI DAN IMPLEMENTASI

    2.1 Objek Penelitian

    Penelitian ini mengambil objek yaitu situs website pemerintah kabupaten OKU dan OKU Timur. Untuk pemerintah kabupaten OKU bisa diakses dengan alamat web www.okukab.go.id, sedangkan untuk pemerintah kabupaten OKU Timur bisa diakses pada www.okutimurkab.go.id.

    Pada saat dilakukan penelitian ini untuk situs kabupaten OKU Timur memiliki masalah yaitu situs web ini sudah tidak aktif (“up”) lagi dan hanya muncul headernya saja. Melihat kondisi seperti ini maka untuk situs website kabupaten OKU Timur tidak bisa dianalisa dan dievaluasi, karena analisis dan evaluasi dilakukan ketika situs web ini dalam keadaan aktif. Sehingga dalam penelitian ini hanya akan membahas analisis dan evaluasi terhadap situs website kabupaten OKU saja.

    2.2 Profil Responden

    Responden yang diambil untuk mewakili seluruh pengguna sebanyak 6 (enam) responden, dengan pemisahan responden berdasarkan pada: pengguna aktif, pengguna terampil dan pengguna awam. Dengan pemisahan pengguna ini diharapkan dapat mewakili semua pengguna sesuai dengan tingkatan pengguna yang ada.

    2.3 Desain Penelitian

    Dalam Suparmo (2007, hal.49-50) dituliskan bahwa Buur dan Sung (1999) mengemukakan langkah-langkah dalam melakukan uji ketergunaan. Langkah-langkah yang dikemukakan adalah sebagai berikut: Planning A Usability Test, Selecting a representative sample and recruiting partipipants, Preparing the test materials and actual test environtment, Conduction the usability test, Debriefing the Participant, Analyzing the data of the usability test, Reporting the result and making recommendations to improve the design and effectivess of the product.

    Desain penelitian dalam penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

    1. Memilih Objek, langkah ini adalah proses penentuan objek yang akan diteliti yaitu, situs website pemerintah daerah kabupaten OKU dan OKU Timur.
    2. Memilih Reponden,  menurut Michael & Ben,  (2003) dikatakan bahwa:

    If the Web site has very different types of users (e.g., novices and experts), it is important to test with six or more of each type of user” (hal.192)

    Pemilihan responden yang akan memberikan isian terhadap kuisioner sejumlah 6 orang dengan pemisahan yaitu 2 (dua) orang pengguna aktif (terampil menggunakan internet dan sering mengakses kedua situs website tersebut), 2 (dua)  orang pengguna terampil (terampil menggunakan internet) dan 2 orang pengguna awam.

    1. Mempresentasikan tugas kepada responden, langkah ini adalah memberikan penjelasan kepada responden bahwa yang diuji bukan responden tetapi objek penelitian dan memberikan penjelasan bagaimana proses  mengisikan kuisioner.
    2. Memberikan tugas kepada Responden, memberikan tugas kepada responden, yaitu memberikan tugas-tugas dalam kuisioner untuk dijawab oleh responden
    3. Pengisian kuisioner dari responden, responden memberikan jawaban untuk kuisioner yang diberikan sesuai dengan yang dialami oleh responden.
    4. Analisa jawaban dari responden terhadap website dari segi jawaban responden
    5. Dari evaluasi yang dilakukan akan mendapatkan informasi yang lengkap mengenai kelebihan dan kekurangan website yang sekarang ini ada mengunakan teknik usability testing.
    6. Evaluasi dilakukan untuk mendapatkan informasi yang lengkap mengenai kelebihan dan kekurangan website berdasar Penyelenggaraan Situs Web Pemerintah Daerah
    7. Membandingkan kedua situs web milik pemerintah daerah kabupaten OKU dan OKU Timur.
    8. Membuat laporan dari evaluasi dan memberikan rekomendasi.

    2.4 Populasi dan Sampel

    Dalam evaluasi yang dilakukan terhadap situs website pemerintah kabupaten OKU dan OKU Timur menggunakan usability testing, diperlukan sampel dari sebuah populasi. Menurut Rahayu (2005) mendefinisikan bahwa:

    Secara umum populasi dapat didefinisikan sebagai sekumpulan data yang mengidentifikasi suatu fenomena” (hal.60)

    Sampel yang diambil dari pupulasi adalah pengguna yang nantinya akan dijadikan responden dalam usability testing. Pengguna yang akan dijadikan sampel harus mewakili dari seluruh populasi (pengguna). Didalam usability Testing terhadap situs website milik pemerintah kabupaten OKU dan OKU Timur ini akan diambil sampel yang mewakili tiga tingkatan pengguna yaitu:

    1. Pengguna Aktif: Pengguna yang terampil internet dan aktif dalam mengakses situs website Pemkab OKU
    2. Pengguna Terampil: Pengguna yang terampil internet
    3. Pengguna Awam: Pengguna yang baru tahu internet.

    Krug (2000) mengatakan bahwa:

    In most cases, I tend to think the ideal number of users for each round of testing is three, or at most four” (hal.146)

    Atau bisa diartikan  dalam “kebanyakan kasus, saya cenderung berpikir jumlah pengguna yang ideal untuk setiap putaran pengujian tiga, atau empat paling banyak”.

    Dalam buku Don’t Make Me Think! A Common Sense Approach to Web Usability, Krug (2000, hal.146) mengungkapkan bahwa Jakob Nielsen dan Tom Landauer telah menunjukkan bahwa pengujian lima user akan cenderung dapat  mengungkap 85 persen kegunaan, dan untuk kasus tertentu  semakin berkurang untuk pengujian pengguna tambahan.

    Dalam penelitian ini diambil 6 (enam) responden yang akan mewakili populasi (pengguna) dan juga mewakili tiga tingkatan pengguna, yaitu 2 (dua) orang mewakili pengguna aktif, 2 (dua) orang mewakili pengguna terampil, dan 2 (dua) orang mewakili pengguna awam.

    .

    2.5 Alat Analisa Data

    Pelaratan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

    1. Komputer dengan spesifikasi cukup untuk menjalankan perangkat lunak: Web Browser : Mozila Firefox, Internet Explorer, Opera; Penulisan laporan: Microsoft Office 2007; dan aplikasi untuk perekaman screen monitor, yaitu Camtasia Studio 7.0. Dan bisa berjalan diatas sistem operasi Windows XP.
    2. Webcam
    3. Modem
    4. Koneksi internet
    5. Kertas dan Alat tulis

    Untuk menganalisa permasalahan yang ada, digunakan metode usability testing untuk mengevaluasi dari segi kemudahan digunakan, kemudahan dipelajari, efisiensi dan kepuasan dan dilakukan analisa kedua menggunakan standar dari pemerintah yaitu Panduan Penyelenggaraan Situs Web Pemerintah Daerah yang diterbitkan oleh Kementrian Komunikasi RI tahun 2003.

    2.6 Cara Pengambilan dan Perlakuan Sampel

    Menurut Busrowi dan Sukidin (2002) dalam Suparmo (2007, hal.61) dinyatakan bahwa dalam penelitian kualitatif tidak mengenal istilah sampel acak, ukuran sampel, luas sampel dan metode sampel. Dalam penelitian kualitatif lebih dikenal dengan Snowballing Sampling.  Hal ini juga dikemukakan oleh Moleong (2005) dalam  Suparmo (2007, hal 61) bahwa penelitian kualitatif tidak ada sampel acak tetapi sampel bertujuan (purposive sampling).

    Marzuki (2002) mengatakan bahwa:

    Purposive Sampling: sampling dimana pengambilan elemen-elemen yang dimasukkan dalam sampel dilakukan dengan sengaja, dengan catatan bahwa sampel tersebut representatif atau mewakili populasi” (hal.51)

    Sampel yang akan mewaili pengguna (populasi) diambil dengan pemilihan sampel bertujuan dengan syarat mewakili dari tiga level pengguna, yaitu pengguna aktif, pengguna terampil dan pengguna awam. Keenam sampel yang diambil ini adalah 1 (satu) orang dosen dan 1 (satu) orang karyawan untuk mewakili pengguna aktif, 1 (satu) orang dosen dan 1 (satu) orang karyawan untuk mewakili pengguna terampil, dan 1 (dua) orang mahasiswa semester 1 (satu) dan 1 (satu) orang mahasiswa semester 3 (tiga) untuk mewakili pengguna awam. Keenam responden yang diambil sebagi sampel ini sudah menyetujui hal-hal sebagai berikut:

    1. Mengatahui dengan jelas tujuan dan prosedur pengumpulan data untuk penelitian Usability Testing situs web www.okukab.go.id (situs website pemerintah daerah kabupaten OKU)
    2. Mengetahui dan menyetujui untuk direkam baik video maupun audio pada saat kegiatan ini berlangsung.
    3. Menyetujui data yang dikumpulkan akan digunakan semata-mata untuk keperluan penelitian dengan tema diatas dan bahan evaluasi pengembangan situs website www.okukab.go.id.

    Pemilihan responden ini didasarkan pada isian “wawancara pemilihan peserta” (lampiran) dan identitas responden  yang mewakili pengguna dirahasiakan identitasnya.

    2.7 Pengukuran dan Cara Pengamatan Variabel Dan/Atau Konsep Yang Diukur

    Pengukuran dan cara pengamatan yang digunakan secara langsung, sesuai dengan yang dikemukakan Moleong (2005) dalam Suparmo (2007, hal.60) yang mengatakan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang memanfaatkan wawancara terbuka untuk menelaah dan memahami sikap, pandangan, dan perilaku individu atau sekelompok orang.

    Responden yang diambil dari populasi sebanyak 6 (enam) responden ini diberikan tugas untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan (Task) yang sudah disiapkan dalam scrip (skenario kuisioner). Task yang diberikan dibagi menjadi 3 (tiga) bagian (lampiran) yaitu:

    1. Wancara pemilihan peserta.

    Bagian ini digunakan untuk menentukan tingkatan responden

    1. Formulir Uji Ketergunaan  www.okukab.go.id

    Bagian ini responden diminta untuk mengerjakan tugas untuk mendapatkan informasi yang ada didalam situs website.

    1. Wawancara Secara detail.

    Bagian yang terakhir ini responden diminta pendapatnya tentang pertanyaan (Task) yang diberikan pada bagian ini.

    Dalam proses pengerjaan Task tersebut responden direkam dengan menggunakan webcam dan didukung dengan software Camtasia Studio 7.0. Responden direkam video (wajah responden) maupun aktifitas layar monitor yang digunakan.

    2.8    Langkah-langkah Dalam Pengumpulan Dan Manajemen Penelitian Di Lapangan

    Langkah-langkah pengumpulan data dilakukan berdasarkan scrip (lampiran) yang sudah disiapkan sebelumnya, dan dalam setiap bagian akan dilakukan pencatatan apabila ditemukan pertanyaan–pertanyaan dari responden. Selain pencatatan pertanyaan setiap responden, juga dilakukan pencatatan respon dari setiap kegiatan responden dalam menjawab Task yang diberikan.

    Untuk mempermudah dalam proses pendokumentasian dan mempermudah dalam proses pencatatan, juga disiapkan perekaman mulai dari screen monitor yang digunakan responden, aktifitas responden dan suara dengan menggunakan software Camtasia Studio 7.0.

    2.9 Teknik Analisa Data

    Data yang dikumpulkan dalam proses pengisian kusioner dilakukan perekapan baik data isian dari responden maupun data yang dikumpulkan dari respon keenam responden. Hasil perekapan ini akan disajikan dalam bentuk tabel-tabel untuk kepentingan analisis.

    Dari perekapan ini akan dilakukan analisis yaitu sebagai berikut:

    1. Untuk bagian yang pertama (wawancara pemilihan peserta) dianalisa untuk mengetahui dinama posisi tingkatan pengguna (aktif/terampil/awam).
    2. Bagian kedua untuk mengetahuai sejauh mana kesulitan yang dihadapi responden dalam mendapatkan informasi didalam situs website, dari bagian ini akan dapat dinilai seberapa besar prosentase responden mampu mendapatkan informasi.
    3. Bagian ketiga untuk medapat masukan-masukan dari responden.

    Pengolahan data meliputi kegiatan: editing, coding, tabulating. Editing adalah data yang masuk diperiksa apakah terdapat kekeliruan-kekeliruan dalam pengisian barangkali ada yang tidak lengkap, palsu, tidak sesuai dan sebagainya. Coding yaitu pemeberian tanda, simbol, kode bagi tiap-tiap data yang termasuk dalam kategori yang sama. Tanda berupa angka atau huruf, misalnya:

    Usaha pokok        : 1

    Usaha sampingan               : 2

    Tabulating yaitu jawaban-jawaban yang serupa dikelompokkan dengan cara yang teliti dan teratur, kemudian dihitung, dan dijumlah berapa banyak peristiwa, gejala, item yang termasuk dalam satu kategori. (Marzuki, 2002)

    2.10 Usability Testing

    Usability Testing yang dalam bahasa Indonesia disebut dengan Uji Ketergunaan. Kebergunaan (Bahasa Inggris: usability) adalah suatu istilah yang menunjukkan kemudahan manusia untuk menggunakan suatu alat atau objek buatan manusia lainnya untuk mencapai tujuan tertentu. Kebergunaan juga dapat merujuk pada metode pengukuran kebergunaan dan kajian prinsip di balik persepsi efisiensi dan keluwesan suatu objek.

    Dalam interaksi manusia komputer dan ilmu komputer, kebergunaan biasanya merujuk pada keluwesan dan kejelasan interaksi dengan hasil rancangan suatu program komputer atau situs web. Istilah ini juga sering digunakan dalam konteks produk elektronika konsumen, atau pada bidang komunikasi, serta objek alih pengetahuan (misalnya buku masak atau dokumen). Kebergunaan dapat pula merujuk pada desain efisien suatu objek mekanis seperti suatu gagang pintu atau palu.

    Ide utama kebergunaan adalah sebuah objek yang didesain sesuai harapan dari sisi psikologi dan fisologi pengguna pada umumnya. Sebagai contoh:

    3         Lebih efisien untuk digunakan – Hanya dibutuhkan sedikit waktu untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan

    4         Mudah untuk dipelajari – Pengoperasian dapat dipelajari dengan mengobservasi objeknya

    5         Hasil penggunaannya lebih memuaskan

    Sistem komputer nan kompleks telah banyak membantu kita dalam kehidupan sehari – hari, dalam waktu bersamaan pasar sudah semakin tersaturasi dengan padatnya kompetisi (merk) brand. Hal ini menjadikan kebergunaan semakin populer dan dikenal luas pada beberapa tahun terakhir, sebagaimana banyak perusahaan juga melihat – ternyata akan didapat lebih banyak keuntungan dengan meriset dan membangun sebuah produk yang berorientasi pada pengguna daripada hanya menggunakan metode berorientasi teknologi. Dengan mengerti dan meriset hubungan (interaksi) antara produk dan pengguna, seorang ahli usability dapat memberikan saran yang jauh lebih akurat dimana hal ini tidak dapat dicapai jika hanya menggunakan riset pasar berbasis perusahaan yang masih tradisional. Sebagai contoh, setelah mengobservasi dan mewawancara pengguna, ahli usability dapat segera mengidentifikasi kebutuhan fungsional atau menentukan suatu ketidaksempurnaan pada sebuah produk.

    Badre (2002) memberikan definisi Usability Testing atau uji ketergunaan sebagai berikut,

    Usability Testing has traditionally meant testing for efficiency, ease of learning, and the ability to remember how to perform interactive Tasks without difficulty or errors.” (hal.229)

    Dengan perkataan lain, uji ketergunaan adalah mengukur efisiensi, kemudahan dipelajari, dan kemampuan untuk mengingat bagaimana berinteraksi tanpa kesulitan atau kesalahan. Selanjutnya dikatakan, uji ketergunaan dilakukan untuk mengukur bagaimana pemakai menggunakan sistem dan masalah-masalah yang ditemuinya.

    Krug (2000) mengatakan bahwa:

    In most cases, I tend to think the ideal number of users for each round of testing is three, or at most four” (hal.146)

    Atau bisa diartikan  dalam “kebanyakan kasus, saya cenderung berpikir jumlah pengguna yang ideal untuk setiap putaran pengujian tiga, atau empat paling banyak”.

    Dalam buku Don’t Make Me Think! A Common Sense Approach to Web Usability, karya Krug (2000, hal.146) mengungkapkan bahwa Jakob Nielsen dan Tom Landauer telah menunjukkan bahwa pengujian lima user akan cenderung dapat  mengungkap 85 persen kegunaan, dan untuk kasus tertentu  semakin berkurang untuk pengujian pengguna tambahan

    Krug (2000, hal.146) juga mengungkapkan bahwa Jika Anda mempekerjakan seseorang untuk melakukan pengujian untuk Anda dan uang bukan masalah, memungkinkan  juga uji enam atau delapan pengguna karena biaya tambahan per pengguna akan relatif rendah.

    2.11 Panduan Penyelenggaraan Situs Web Pemerintah Daerah

    Berdasarkan sifat transaksi informasi dan pelayanan publik yang disediakan oleh Pemerintah Daerah melalui jaringan informasi, pengembangan e-government dapat dilaksanakan melalui 4 (empat) tingkatan, yaitu :

    Tingkat 1: Persiapan

    a. Pembuatan situs web sebagai media informasi dan komunikasi pada setiap lembaga.

    b. Sosialisasi situs web untuk internal dan publik.

    Tingkat 2: Pematangan

    a. Pembuatan situs web informasi publik yang bersifat interaktif.

    b. Pembuatan antar muka keterhubungan dengan lembaga lain.

    Tingkat 3: Pemantapan

    a. Pembuatan situs web yang bersifat transaksi pelayanan publik.

    b. Pembuatan interoperabilitas aplikasi dan data dengan lembaga lain.

    Tingkat 4: Pemanfaatan

    Pembuatan aplikasi untuk pelayanan yang bersifat Government to Government (G2G), Government to Business (G2B), Government to Consumers (G2C).

    Pembuatan situs web pemerintah daerah sesuai dengan keinginan pemerintah di dalam pemberian pelayanan kepada masyarakat yaitu :

    1) perolehan informasi secara mudah, benar, adil, dan luas cakupan;

    2) penyebarluasan informasi melalui media elektronik yang meliputi:

    a. semua bahan yang telah diterbitkan atau bahan bahan yang telah berada di luar perlindungan hak cipta (boleh diketahui oleh umum);

    b. semua informasi yang dibuat dan dikumpulkan sesuai undang-undang yang berlaku (tunduk kepada pertimbangan-pertimbangan kepekaan komersial dan rahasia pribadi);

    c. semua dokumen yang diperlukan bagi kepentingan masyarakat.

    Situs web pemerintah daerah dimaksudkan untuk diterapkan dan digunakan pada instansi-instansi pemerintah daerah yang secara teratur berhubungan satu sama lain, serta harus memberikan informasi dan layanan kepada masyarakat.

    (Kementrian Komunikasi RI, 2003)

    1. 3. HASIL

    Dari jawaban yang bisa ditemukan dan tidak ditemukan beserta prosentase masing-masing subbagian dapat disimpulkan dari jawaban Task yang diberikan responden bahwa prosentase pengguna dalam mendapatkan informasi didalam situs website kabupaten OKU sebesar 81,26%. Subagian menu yang terdapat dalam situs website kabupaten OKU yang bisa diperoleh informasinya dengan mudah adalah pada subagian menu weblink yang bisa ditemukan oleh pengguna dengan tingkat ketemu adalah 100%, dan subagian menu yang terdapat dalam situs website kabupaten OKU yang paling sulit bisa diperoleh informasinya adalah pada subagian menu beranda yang bisa ditemukan oleh pengguna dengan tingkat ketemu adalah 52.08%.

    Pada akhirnya dapat disimpulkan dari jawaban Task yang diberikan responden bahwa prosentase pengguna yang tidak mendapatkan informasi didalam situs website kabupaten OKU sebesar 18,74%. Subagian menu yang terdapat dalam situs website kabupaten OKU yang paling sulit diperoleh informasinya adalah pada subagian menu beranda yang kesulitan ditemukan oleh pengguna dengan tingkat tidak ketemu adalah 47,92%, dan subagian menu yang terdapat dalam situs website kabupaten OKU yang paling mudah diperoleh informasinya adalah pada subagian menu weblink yang tidak ditemukan oleh pengguna dengan tingkat tidak ketemu adalah 0%.

    Sehingga dapat disimpulkan bahwa prosentase kesesuaian Situs web pemerintah kabupaten OKU dengan Panduan Penyelenggaraan Situs Web Pemerintah Daerah yang dikeluarkan oleh Kementrian Komunikasi RI tahun 2003 sebesar 27,91% (dua puluh tujuh koma sembilan puluh satu persen), prosentase bagian yang ada tetapi belum sesuai dengan Panduan Penyelenggaraan Situs Web Pemerintah Daerah yang dikeluarkan oleh Kementrian Komunikasi RI tahun 2003 sebesar 48,84% (empat puluh delapan koma delapan puluh empat persen), dan prosentase bagian yang tidak ada dalam situs website kabupaten OKU tetapi diisyaratkan dalam Panduan Penyelenggaraan Situs Web Pemerintah Daerah yang dikeluarkan oleh Kementrian Komunikasi RI tahun 2003 sebesar 23,26% (dua puluh tiga koma dua puluh enam persen).

    1. 4. KESIMPULAN DAN SARAN

    4.1 Masalah Pada Situs

    Menu yang ada didalam situs web pemerintah kabupaten OKU dirasakan cukup menyulitkan bagi pengguna. Hal ini dikarenakan bentuk submenu yang melebar bukan turun kebawah (pulldown), sehingga ketika pengguna akan memilih salah satu submenu terasa cukup sulit, karena bila kursor bergeser sedikit saja sudah pindah menu.

    Mengenai kecepatan loading situs web pemerintah kabupaten OKU menurut pengguna belum masuk kedalam kategori cepat. Dan kecepatan merespon masukan dari masyarakat harus ditingkatkan semaksimal mungkin, karena hanya sedikit masukkan dari masyarakat yang diberikan tanggapannya.

    Informasi dalam bentuk berita dan artikel tingkat up-date nya masih cukup rendah, hal ini terlihat dengan tanggal update artikel dan berita yang ditampilkan. Berita dan artikel yang ditampilkan juga belum banyak dan belum banyak membahas tentang pembangunan dan perkembangan kabupaten OKU.

    4.2 Usulan Perbaikan

    Dari wawancara yang dilakukan pada proses usability testing didapat beberapa masukan dari pengguna untuk perbaikan situs web kabupaten OKU kedepan. Masukan tersebut didapat dari Task “wawancara secara detail”, point-point usulan perbaikan tersebut adalah sebagai berikut:

    1. Arti menu yang terdapat pada www.okukab.go.id adalah:
    2. Arti menu yang terdapat pada situs website kabupaten OKU untuk mempermudah pencarian informasi pada situs web kabupaten OKU.
    3. Menu yaitu fasilitas untuk masuk kedalam halaman-halaman informasi berdasar bagian-bagian tersendiri didalam situs website kabupaten OKU.
      1. Istilah yang digunakan sebagai nama menu dan juga navigasi pada www.okukab.go.id
      2. Kesulitan untuk masuk kedalam sub menu
      3. Istilah menu sudah tepat sesuai dengan fungsi menunya.
      4. Sudah tepat dan dan sesuai dengan isi pada menu dan navigasi
        1. Kecepatan dari www.okukab.go.id dalam hal loading.
        2. Tidak terlalu lambat
        3. Untuk kecepatan akses perlu ditingkatkan lagi
          1. Kecepatan dari www.okukab.go.id dalam hal memberikan respon.
          2. Sangat lambat, setiap komentar tidak segera ditanggapi
          3. Kurang dalam memberikan respon yang disampaikan oleh masyarakat OKU
          4. Respon belum up to date
            1. Kesalahan yang masih terdapat dalam www.okukab.go.id
            2. Link info harus url baru jangan menimpa pada www.okukab.go.id
            3. Sebaiknya admin web segera merespon dan membenahi kesalahan yang ada.
            4. Kesalahan akan lebih baik kalau langsung diperbaiki, ada link yang not found

    4.3 SARAN

    Beberapa saran yang berkaitan dengan penelitian Usability testing pada situs web pemerintah kabupaten OKU adalah sebagai berikut:

    1. Saran Untuk Situs Web
    2. Pengembangan situs website pemerintah kabupaten OKU dengan acuan standar pemerintah yaitu Panduan Penyelenggaraan Situs Web Pemerintah Daerah yang dikeluarkan oleh Kementrian Komunikasi RI tahun 2003.
    3. Pelaksanaan Usability testing secara kontinyu dan terprogram, sehingga akan memudahkan pengguna dalam mengakses situs website.
    4. Dibentuk tim pengelola situs web, agar pengelolaan situs lebih baik dan informasi yang diberikan lebih up to date.
    5. Memberikan pelayanan dalam bentuk pengurusan surat dan pelayanan publik.
      1. Saran Untuk Penelitian
      2. Penelitian dilanjutkan dengan perbandingan pada situs website kabupaten OKU Timur, karena pada saat penelitian ini situs tersebut tidak aktif (up).
      3. Penelitian Usability testing dapat dilanjutkan dengan memperluas jenis dan jumlah peserta.

    REFERENSI

    [1]     BLUE PRINT SISTEM APLIKASI E-GOVERNMENT,  2004, Departemen Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia.

    [2]     BUKU PANDUAN PEMBANGUNAN SITUS WEB PEMERINTAH DAERAH PESERTA USDR, 2010, Urban Sector Development Reform Project (USDRP).

    [3]     Dewiyana H., 2008, Uji Ketergunaan Antar Muka Situs Web Perpustakaan Universitas Sumatera Utara, Jurnal Pustaha Vol.4 No.2, Universitas Sumatera Utara

    [4]     Hasibuan A. Z., 2007, Langkah-langkah Strategis dan Taktis Pengembangan E-Government Untuk Pemda, Jurnal Sistem Informasi MTI UI Vol.3, Universitas Indonesia.

    [5]     Intruksi Presiden No.3 tahun 2003 tentang “Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan E-Government Indonesia”.

    [6]     Krug S., 2000, Don’t Make Me Think! A Common Sense Approach to Web Usability, diakses pada 19 November 2010 dari http://sensible.com/Downloads/DMMTchapter11_for_personal_use_only.pdf

    [7]     Michael L.O. & Ben S.,  2003, Research-Based Web Design & Usability Guidelines,  US Government Printing Office, Washington, DC.

    [8]     Marzuki, 2002, Metodologi Riset, Bagian Penerbitan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta

    [9]     PANDUAN PENYELENGGARAAN SITUS WEB PEMERINTAH DAERAH,  2003, Kementrian Komunikasi RI

    [10] Rahayu S., 2005, SPSS Versi 12.00 Dalam Riset Pemasaran, Alfabeta, Bandung

    [11] Retno Dewi Broto dkk, 2007, Evaluasi Web Site E-Government Instansi Pemerintah Daerah, Jurnal, Univ. Gunadarma & Depnakertrans.

    [12] Suparmo P., 2007, Uji Ketergunaan Situs Web jaringan Perpustakaan Asosiasi Perguruan Tinggi Khatolik Di Indonesia (APTIK) bagi Mahasiswa Yang Sedang Menulis Skripsi Pada tahun Akademik 2006/2007 Di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Tesis Magister, Universitas Indonesia.

    [13] Widawaty R. Y., 2004, Uji Ketergunaan Formal Pada Antarmuka Atmalib (Perpustakaan Digital Universitas Khatolik Atmajaya, Jakarta), Buletin JPA Volume I No.3, Jakarta.

    [14] Pengujian Kegunaan Situs Web: Prosedur Yang Direkomendasikan, tt, diakses pada 8 November 2010 dari http://www.webpagecontent.com/arc_archive/124/5

    [15] Apa Yang Masuk Ke Script Pengujian Usability, tt, diakses pada 8 November 2010 dari http://boagworld.com/usability/what-goes-into-a-user-testing-script

    [16] eHow Contributor, tt, Cara Menuliskan Script Tes usability, diakses pada 8 November 2010 dari http://www.ehow.com/how_4968896_write_usability _test_Script.html

    [17] Fast And Simple Usability testing, tt, Downe Natalie, diakses pada 8 November 2010 dari http://24ways.org/2006/fast-and-simple-usability-testing

    [18] Usability Test Script (2010), Diakses 8 November 2010 dari  http://www.sensible.com/Downloads/test-script.pdf

    [19] Http://www.webcredible.co.uk/ diakses pada 12 oktober 2010

    Pedoman usability testing:

    1. Memilih subjek

    Seperti halnya proyek terhadap pasar, hasilnya akan sebagus responden yang dilakukan pengujian. Jangan menguji orang-orang dari pihak sendiri, atau teman-teman dan keluarga. Ambil pihak tertentu yang akan dijadikan reponden. Pastikan responden tidak tahu mengenai perusahaan atau instansi yang akan dinilai oleh peserta responden.

    1. Sebelum Usability testing

    Buat kesan pertama yaitu kepercayaan, karena kesan pertama sangat penting. Bagian Usability testing seringkali merupakan lingkungan buatan, untuk hasil yang bermanfaat dan inovatif, maka responden harus berprilaku seolah-olah mereka yang menggunakan situs dirumah atau ditempat kerja.

    Memberikan penjelasan yang sejelasnya tentang kuisioner yang akan diisikan oleh responden, juga untuk memastikan responden mengetahui berapa lama usability testing dan tugas yang akan dibagikan kepada responden. Jangan menggunakan istilah Usability Testing atau riset pasar karena akan membingungkan dan membuat mempengaruhi jawaban responden. Yakinkan kepada responden bahwa kuisioner benar-benar rahasia dan mintakan izin untuk menggunakan data yang dihasilkan selama proses pengujian.

    Berikan bentuk-bentuk kesepakatan yang perlu disepakati. Dan yang penting adalah tulisan dalam bahasa Inggris dibuat sesingkat dan semudah mungkin.

    1. Mengawali Usability testing

    Sebelum melaksanakan tugas utama untuk para responded, lakukan agar responden akrab denga apa yang akan diisikan oleh para responden. Sampaikan kepada responden nama website dan URL-nya, dan mintakan kepada responden untuk memberikan umpan balik awal yang diharapkan oleh responden tentang situs yang diteliti. Buatlah catatan dari setiap istilah atau frasa yang digunakan, hal ini dilakukan untuk mendapatkan umpan balik yang baik, dapat juga memberikan tips yang berguna, fungsional maupun navigasi.

    Lanjutkan dengan membiarkan responden melihat lebih jauh website yang akan diteliti, agar responden terbiasa dengan website tersebut. Berikan tugas-tugas sederhana untuk membantu meyakinkan para responden bahwa tugas mereka tidak akan sulit dan yang paling penting adalah meyakinkan para responden, bahwa mereka bukan orang yang sedang diuji.

    1. Memilih Tugas

    Menentukan tugas-tugas yang penting untuk kesuksesan situs baru, seperti:

    - Membeli produk

    - Membayar tagihan

    - Menghubungi klien

    Yang perlu diingat adalah kita bukan akan menggunakan ego kita. Situs yang dibangun mempunyai alasan seperti bisakan user melakukan apa yang mereka inginkan?

    Ini juga merupakan ide yang baik untuk meminta user memberikan tugas. Meskipun hal ini memberikan indikasi lain dari harapan mereka, hal itu mungkin akan menyarakan fitur baru.

    1. Bagaimana memberikan Perintah

    Orang cenderung untuk melakukan lebih alami jika disediakan skenario daripada petunjuk. Ketika memberi tugas, harus menggunakan frase seperti ‘Skenario A telah terjadi, dan Anda perlu menelepon perusahaan segera – temukan nomor telepon’. Hal ini jauh lebih baik daripada ‘menemukan kontak kami bagian dari situs’.

    1. Mempresentasikan tugas

    Berikan satu tugas pada satu waktu. Lebih dari satu tugas mungkin akan mengitimidasi mereka atau akan mempengaruhi hasil pengujian.

    Jika pengguna diharuskan untuk menggunakan masukan dari luar uji (misalnya email memberikan password ke situs), berikan inputnya kepada mereka. Hal ini akan memberikan umpan balik yang berguna pada semua elemen dari proses, bukan hanya situs.

    1. Bagaiman Berprilaku selama Usability Testing

    Ini penting diingat bahwa itu adalah situs yang sedang diuji, bukan Anda atau subjek. Setiap umpan balik yang didapatkan adalah berharga dan pastikan responden tahu. Jika responden tidak bisa melakukan sesuatu, pastikan mereka tahu bahwa itu bukan kesalahan mereka.

    Anda harus berada diluar selama proses pengujian. Anda tidak harus mengubah hasil tes dengan menyediakan petunjuk yang menunjukkan arahatau bereaksi terhadap hal-hal yang responden katakan dan lakukan. Jangan mulai menggelengkan kepala Anda atau terengah-engah, itu mungkin mengganggu. Sewaktu waktu Anda harus berbicara untuk membantu peserta memberikan pendapat, atau untuk memperjelas tanggapan. Jika ragu-ragu diamkan.

    1. Setelah Usability testing

    Setelah semua tugas telah selesai, Anda harus mengumpulkan informasi sebanyak mungkin.

    Mengecek keseluruhan situs akan memungkinkan Anda untuk menilai apakah harapan telah dipenuhi, dan apakah melihat perubahan responden telah berubah selama proses tersebut.

    Selalu minta saran, hal ini tidak hanya menunjukkan nilai yang Anda tempatkan pada pikiran mereka, tetapi dapat memberikan wawasan bagaimana situs yang lebih baik dapat mendukung pengguna. Akhirnya, meminta peserta apa yang mereka ingat tentang struktur situs dan fungsi situs, jika responden ingat jelas akan mengkonfirmasi bahwa situs ini disusun secara logis dan membantu mengidentifikasi masalah apapun mungkin telah terjawab. Http://www.webcredible.co.uk/